Minggu, 22 November 2015

Contoh Makalah Kehamilan Pathology tentang Pseudocyesis

ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN PATHOLOGY
PSEUDOCYESIS





Disusun Oleh :

1.     Dwi Anggar Kasih
2.     Lili Khulaela
3.     Tuti Awaliyah Septiany
4.     Vera Rizka Romadhoni
5.     Widya Putri Pangestika
6.     Yuniar Dwi Shinta

Dosen Pengampu : Ratih Sakti Pratiwi,  S.ST

POLITEKNIK HARAPAN BERSAMA
PRODI DIII KEBIDANAN 
TAHUN 2015/2016






KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang  Maha Esa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul “PSEUDOCYESIS”. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi  para pembaca.
Harapan kami semoga makalah ini dapat membantu dalam menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini kedepannya agar lebih baik lagi.
Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan  masukan-masukan  yang  bersifat  membangun untuk kesempurnaan makalah ini.



                                                                                                                        Penulis,















DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..............................................................................................        i
KATA PENGANTAR............................................................................................        ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................       iii
BAB I  PENDAHULUAN......................................................................................         1
A.    LATAR BELAKANG............................................................................................         1
B.     RUMUSAN MASALAH.......................................................................................         2
C.     TUJUAN PENULISAN.........................................................................................         2
BAB II  DASAR TEORI........................................................................................         3
A.    DEFINISI...............................................................................................................          3
B.     ETIOLOGI..............................................................................................................         4
C.     PATOFISIOLOGI..................................................................................................         5
D.    TANDA GEJALA..................................................................................................         5
E.     FAKTOR RESIKO.................................................................................................         6
F.      PENGOBATAN.....................................................................................................         6
BAB III  CONTOH KASUS...................................................................................        7
BAB IV  PEMBAHASAN.....................................................................................         8
BAB V  PENUTUP................................................................................................         9
A.    KESIMPULAN......................................................................................................         9
B.     SARAN...................................................................................................................         9
DAFTAR PUSTAKA           












BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
            Masa reproduksi merupakan masa yang terpenting bagi wanita dan berlangsung kira – kira 33 tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan siklus pada alat genital bermakna untuk memungkinkan kehamilan. Pada masa ini terjadi ovulasi kurang lebih 450 kali, dan selama ini wanita berdarah selama 1800 hari. Biarpun pada umur 40 tahun keatas perempun masih dapat dihamilkan, fertilitas menurun cepat sesudah umur tersebut (ilmu kandungan,2008).
            Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui tetapi sebagian wanita mengganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya.
            Perubahan fisik dan emosional yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosial kultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ke tingkat gangguan jiwa yang berat.
            Diagnosa kehamilan sangat penting dilakukan oleh Bidan atau tenaga kesehatan lainnya, untuk mengetahui semua hal yang terjadi pada masa kehamilan. Diagnosa kehamilan ini juga sangat berguna bagi ibu hamil, karena dengan mengetahui diagnosa kehamilannnya, ibu hamil akan lebih baik lagi dalam menjaga kehamilannya dan dengan diagnosa kehamilan ini bisa meminimalkan resiko buruk yang terjadi pada kehamilan.
            Di samping itu, untuk menjaga kehamilan agar tetap terjaga banyak faktor – faktor yang mempengaruhi kehamilan yang harus diperhatikan. Faktor – faktor tersebut meliputi : faktor fisik, faktor psikologis, faktor lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi. Faktor – faktor inilah yang nantinya akan sangat menentukan perkembangan kehamilan.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud pseudocyesis?
2.      Apa saja tanda – tanda  dari pseudocyesis ?
3.      Faktor resiko apa saja yang dapat menimbulkan pseudocyesis?
4.      Apa penyebab terjadi pseudocyesis?
5.      Terjadi perubahan apa saja jika mengalami pseudocyesis?

C.    TUJUAN PENULISAN
            Kami menulis makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas asuhan kebidanan kehamilan pathologis dari dosen kami tentang PSEUDOCYESIS, selain itu kami menulis makalah ini juga untuk menambah wawasankami mengenai gangguan kejiwaan dalam kehamilan yang salah satunya membahas tentang pseudocyesis.






















BAB  II
DASAR TEORI

A.    DEFINISI
1.    Kehamilan palsu (pseudocyesis) adalah suatu keadaan dimana seseorang wanita berada dalam kondisi yang menunjukkan berbagai tanda dan gejala kehamilan seperti tidak mendapat menstruasi, adanya mual-muntah, pembesaran perut, peningkatan berat badan, dan gejala kehamlan lainnya, bahkan kadang kala hasil tes urin dapat menjadi positif palsu (fals positif), tetapi sesungguhnya tidak benar-benar hamil (suririna, 2005).
2.      Hamil palsu atau yang disebut pseudocyesis adalah suatu kondisi dimana seorang perempuan yang tidak hamil namun merasa atau percaya bahwa dirinya sedang hamil, meskipun tidak ada bukti fisik kehamilan. Tidak menstruasi, morning sickness, mengidam, sakit di bagian perut dan pembesaran payudara adalah gejala-gejala yang dikeluhkan penderita hamil palsu (Womens health).
3.      Kehamilan palsu (pseudocyesis) adalah suatu keadaan dimana seorang wanita menunjukkan tanda-tanda dan gejala kehamilan seperti tidak mendapatkan menstruasi, adanya mual-muntah, pembesaran perut, peningkatan berat badan bahkan kadang kala hasil test urin dapat menjadi positif palsu (false positif), dan gejala kehamilan lainnya—tetapi sesungguhnya tidak benar-benar hamil.
4.    Pseudosiesis adalah kehamilan imaginer atau palsu, gejala kehamilan ini secara psikis lebih berat gangguannya daripada peristiwa abortus. Biasanya gejala yang timbul seperti tanda hamil yang pasti yaitu berhentinya menstruasi, membesarnya perut,  payudara jadi besar, pinggul jadi besar, perubahan – perubahan kelenjar endokrin, dan lain-lain.
Pada kehamilan pseudosiesis secara psokologis ada sikap yang ambivalen terhadap kehamilannya yaitu ingin sekali menjadi hamil, sekaligus di barengi ketakutan untuk merealisir keinginan punya anak, sehingga terjadi proses inhibisi. Keinginan – keinginan tersebut dibarengi rasa bersalah dan dorongan untuk menghukum diri sendiri yang kemudian di kompensasikan dalam bentuk agresivitas, secara simultan, berbarengan muncul kesediaan untuk tidak menyadari bahwa kehamilannya ilusi belaka. Oleh komponen yang kontradiktif ini biasanya wanita tidak mau ke dokter untuk memeriksakan dirinya.
5.      Kehamilan palsu atau False pregnancy atau pseudocyesis, adalah suatu kondisi yang terjadi dimana seorang wanita merasa hamil padahal secara medis tidak hamil sama sekali. Kasus ini sangat jarang terjadi pada 6 dari 22000 kehamilan, dan sering terjadi pada wanita usia 20 – 40 tahun. Pada kasus yang lebih jarang lagi, pria juga bias menderita kelainan ini, yang biasa disebut couvade  atau sympathetic pregnancy. Para pria ini akan mengalami gejala seperti pasangan merekan yang sedang hamil, seperti berat badan yang meningkat, mual-mual, muntah dan nyeri pada punggung. Kalau di Indonesia biasa disebut suami yang ikut ngidam pada saat istrinya hamil.

B.     ETIOLOGI
            Perempuan yang mengalami kehamilan palsu atau disebut pseudopregnancy seringkali mengalami gejala kehamilan yang nyata seperti perempuan hamil pada umumnya. Meskipun kondisi ini belum sepenuhnya dapat dijelaskan, para ahli percaya penyebab utamanya adalah masalah emosional dan psikologis.
Perempuan yang mengalami hamil palsu, rahimnya dalam kondisi kosong dalam arti tidak terdapat janin, namun penderita mengeluhkan gejala yang biasa dialami oleh seseorang yang benar-benar hamil.
            Faktor yang sangat sering berhubungan dengan terjadinya kehamilan palsu adalah fakor emosional/psikis yang menyebabkan kelenjar pituiteri terpengaruh sehingga menyebabkan kegagalan system endokrin dalam mengontrol hormon yang menimbulkan keadaan seperti hamil.
            Peristiwa pseudocyesis merujuk pada peristiwa  pseudologia, yaitu fantasi-fantasi kebohongan yang selalu ditampilkan kedepan untuk mengingkari atau menghindari realita yang tidak menyenangkan. Wanita pseudoyesis ingin sekali menonjolkan egonya untuk menutupi kelemahan dirinya, oleh karena itu dipilihlah aliran konseling psikoanalisis dengan menekankan pentingnya riwayat hidup klien, pengaruh dari pengalaman  diri pada kepribadian individu, serta irosionalitas dan sumber-sumber tak sadar dari tingkah laku manusia.
            Peran konselor dalam hal ini adalah menciptakan suasana senyaman mungkin agar klien merasa bebas untuk mengekspresikan pikiran-pikiran yang sulit. Proses ini bisa dilakukan dengan meminta klien berbaring di sofa dan konselor di belakang (sehingga tidak terliahat). Konselor berupaya agar klien mendapat wawasan dengan menyelami kembali dan kemudian menyelesaikan pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan. Dengan begitu klien diharapkan dapat memperoleh kesadaran diri, kejujuran dan hubungan pribadi yang lebih efektif, dapat menghadapi ansietas dengan realistis, serta dapat mengendalikan tingkah laku irasional (lesmana 2006).

C.    PATOFISIOLOGI
            Penyebabnya diduga gangguan psikologis, dimana seorang wanita mempunyai keinginan yang kuat untuk hamil, menterjemahkan perubahan-perubahan kecil pada dirinya sebagai suatu kehamilan. Hebatnya lagi test kehamilan bisa positf (false positif = positif palsu). Air susu juga bisa keluar. Keduanya terjadi lewat jalur hypothalamus-hypofise. Perut membesar akibat penumpukan lemak didinding perut. Gerakan gas dalam perut disangka gerakan bayi. Karena secara fisik kondisinya normal maka tidak dibutukan obat2an kecuali jika ingin memancing haidnya muncul kembali.
            Factor – factor psikologis lain yang menyebabkan terjadinya kehamilan palsu ini seperti : kemiskinan, pendidikan rendah, pengalaman sexual abuse pada saat masih kanak-kanak, masalah dalam hubungan suami – istri, dll.
Kehamilan palsu ini sangat berbeda dan tidak sama dengan kejadian lain seperti berpura-pura hamil atas alas an tertentu seperti ekonomi, atau berangan-angan atau berkhayal hamil seperti pada pasien-pasien schizophrenia

D.    TANDA GEJALA
Wanita dengan kondisi pseudocyesis memiliki kondisi psikologis seperti berikut ini:
1.      Adanya sikap yang ambivalen terhadap kehamilannya, yaitu ingin sekali menjadi hamil,sekaligus tidak ingin menjadi hamil. Ingin memiliki anak yang dibarengi dengan rasa takut untuk menetralisasi keinginan mempunyai anak.
2.      Keinginan untuk menjadi hamil terutama tidak sekali timbul dari dorongan keibuan, akan tetapi khusus dipacu oleh dendam, sikap bermusuhan, dan harga diri. Sebagai contoh wanita yang steril.
3.      Secara bersamaan muncul kesedian untuk menyadari, sekaligus kesedian untuk tidak mau menyadari bahwa kehamilannya adalah ilusi belaka.
4.      Wanita dengan pseudocyesis tidak telepas dari pseudologi, yaitu fantasi-fantasi kebohongan yang selalu ditampilkan kedepan untuk mengingkari hal-hal yang tidak menyenangkan.

E.     FAKTOR RESIKO
Perempuan yang beresiko mengalami hamil palsu ini, diantaranya:
1.    Usia akhir 30 atau awal 40 tahun dan belum memiliki anak (Infertilitas)
2.    Pernah mengalami keguguran pada kandungan sebelumnya
3.    Sangat ingin punya anak lagi, karena anak yang kecil sudah layak punya adik lagi
4.    Di lingkungannya ada perempuan yang sedang hamil
5.    Faktor stres dan kecemasan, terutama yang menyangkut kehamilan
6.    Menopouse dini
7.    Hasrat ingin menikah

F.     PENGOBATAN
            Pengobatan tergantung sejauh mana kepercayaan pasien terhadap delusi/khayalannya, perlunya dukungan dari pasangan hidup dan juga keluarga untuk mengatasinya.
            Untuk suatu keadaan yang berat dimana penderita benar-benar merasa yakin kalau dia hamil dan keadaan ini sampai menimbulkan depresi maka konseling psikologis atau psikiater mungkin diperlukan.

















BAB III
CONTOH KASUS

Seorang wanita berusia 30 tahun bernama ny.S. Ia sudah lama ingin merasakan bagaimana rasanya hamil dan menginginkan kehadiran seorang bayi. Ia dan suaminya telah melakukan segala cara untuk mendapatkan keturunan, mulai dari segi medis, spiritual, terapi, termasuk melakukan coitus yang teratur sesuai instruksi dokter namun hasilnya tetap sama. Mereka belum juga mendapatkan momongan.
Suaminya telah pasrah dengan keadaan ini, namun keinginan suhartin untuk segera hamil membuatnya mengalami proses inhibisi. Dia merasa bersalah kepada suaminya karena tidak bisa memberikan keturunan. Ia seolah-olah menghukum dirinya sendiri yang kemudian ia kompensasikan dalam bentuk agresivitas, secara simultan hingga ia merasakan gejala yang mirip dengan kehamilan pasti.
Ia tidak datang bulan, payudara menegang, pinggul dan perutnya membesar. Ia sangat bahagia dengan keadaan tersebut karena ia menganggap dirinya telah hamil. Ketika suaminya mengajaknya untuk memeriksakan diri kedokter, ia menolak. Ia lebih memilih menggunakan tes HCG untuk memastikan kehamilannya.
Namun diluar dugaannya, hasilnya negatif. Belum begitu yakin, ia menerima ajakan suaminya untuk memeriksakan kehamilannya ke Dokter. Dokter melakukan tes USG terhadapnya, namun tidak ada kantung kehamilan disana. Suhartin semakin kecewa. Dokter dan suaminya mencoba menenangkan dan memberikan pengertian kepada suhartin, namun depresi yang dihadapinya lebih parah daripada peristiwa abortus.











BAB IV
PEMBAHASAN

                   Setelah kami melakukan studi kasus terhadap teori pseudocyesis, kami dapat menyimpulkan bahwa antara kasus dengan dasar teori saling berkaitan, tidak ada kesenjanganantara kasus dan teori. Orang yang mengalami pseudocyesis ialah orang yang benar-benar ingin mempunyai keturunan, baik si penderitabelum mempunyai keturunan dalam jangka waktu yang lama dari pernikahannya atau yang  sudah mempunyai keturunan sebelumnya. Dimana kondisi sang penderita mengalami tanda-tanda atau gejala-gejala seperti orang hamil pada umumnya seperti mual, merasakan gerakan janin, tidak haid, payudara menegang, pinggul dan perutnya membesar. Namun semua itu bukanlah tanda pasti kehamilan.
                   Setelah si penderita melakukan pemeriksaan di petugas kesehatan, penderita akan dinyatakan tidak hamil, karena setelah di USG tidak ada kantung rahim, pembesaran perut tidak diikuti dengan pembesaran uterus, tidak ada bunyi detak jantung janin. Setelah petugas kesehatan mengethui hal yang sebenarnya terjadi pada penderita hendaknya petugas kesehatan memberitahu dan memberi penjjelasan kepada penderitadan keluarganya agar penderita dapat menerima kondisinya yang sebenarnya dan tidak menimbulkan depresi, pihak keluarga juga hendaknyamemberi semangat/dukungan kepada penderita agar penderita tidak menyesal.
                   Untuk itu diharapkan bagi penderita atau keluarga terdekat hendaknya jangan terlalu menekan pasangannya untuk segera hamil, dan bersabar dengan keadaan. Konsultasikan kepada petugas kesehatan tentang program anak, dan menjaga kondisi fisik, pola makan dan pola seksual.









BAB V
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
                        Pseudocyesis ( kehamilan palsu) adalah suatu keadaan dimana seseorang wanita berada dalam kondisi yang menunjukkan berbagai tanda dan gejala kehamilan seperti tidak mendapat menstruasi, adanya mual-muntah, pembesaran perut, peningkatan berat badan, dan gejala kehamlan lainnya, bahkan kadang kala hasil tes urin dapat menjadi positif palsu (fals positif), tetapi sesungguhnya tidak benar-benar hamil (suririna, 2005). Pseudocyesis disebabkan karenagangguan psikologi dimana sang penderita terlalu menginginkan mempunyai anak.
Perempuan yang beresiko mengalami hamil palsu ini, diantaranya:
1.      Usia akhir 30 atau awal 40 tahun dan belum memiliki anak (Infertilitas)
2.      Pernah mengalami keguguran pada kandungan sebelumnya
3.      Sangat ingin punya anak lagi, karena anak yang kecil sudah layak punya adik lagi
4.      Di lingkungannya ada perempuan yang sedang hamil
5.      Faktor stres dan kecemasan, terutama yang menyangkut kehamilan
6.      Menopouse dini
7.      Hasrat ingin menikah

B.     SARAN
                        Anak adalah titipan sang ilahi, manusia hendaknya berusaha dan berdo’a jika menginginkan kehadiran seorang anak. Apabila kita telah diberi momongan hendaknya kita menjaganya dengan baik dan benar. Kita boleh saja menginginkan kehadiran seorang anak asalkan kita dapat mengontrol keinginan kita dan melakukannya dengan benar. Jangan terlalu mengharapkan sehingga menganggap semua keinginannya harus terpenuhi karena dengan hal seperti itu dapat mempengaruhi psikologi kita.








DAFTAR PUSTAKA

Mansur, Herawati. 2009. Psikologi Ibu dan Anak untuk Kebidanan. Salemba Medika: Jakarta.

http://artikelkesehatananak.com/cara-mengatasi-hamil-palsu.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar