ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN PATHOLOGY
PSEUDOCYESIS
Disusun Oleh :
1. Dwi
Anggar Kasih
2. Lili
Khulaela
3. Tuti
Awaliyah Septiany
4. Vera
Rizka Romadhoni
5. Widya
Putri Pangestika
6. Yuniar
Dwi Shinta
Dosen Pengampu : Ratih
Sakti Pratiwi, S.ST
POLITEKNIK
HARAPAN BERSAMA
PRODI
DIII KEBIDANAN
TAHUN
2015/2016
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik
dan Hinayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang
berjudul “PSEUDOCYESIS”. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah
satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi para pembaca.
Harapan kami
semoga makalah ini dapat membantu dalam menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah
ini kedepannya agar lebih baik lagi.
Oleh kerena
itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.
Penulis,
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................................. i
KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
DAFTAR ISI........................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... 1
A. LATAR
BELAKANG............................................................................................ 1
B. RUMUSAN
MASALAH....................................................................................... 2
C. TUJUAN
PENULISAN......................................................................................... 2
BAB II DASAR TEORI........................................................................................ 3
A. DEFINISI............................................................................................................... 3
B. ETIOLOGI.............................................................................................................. 4
C. PATOFISIOLOGI.................................................................................................. 5
D. TANDA
GEJALA.................................................................................................. 5
E. FAKTOR
RESIKO................................................................................................. 6
F. PENGOBATAN..................................................................................................... 6
BAB III CONTOH KASUS................................................................................... 7
BAB IV PEMBAHASAN..................................................................................... 8
BAB V PENUTUP................................................................................................ 9
A. KESIMPULAN...................................................................................................... 9
B. SARAN................................................................................................................... 9
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Masa
reproduksi merupakan masa yang terpenting bagi wanita dan berlangsung kira –
kira 33 tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan siklus pada alat genital
bermakna untuk memungkinkan kehamilan. Pada masa ini terjadi ovulasi kurang
lebih 450 kali, dan selama ini wanita berdarah selama 1800 hari. Biarpun pada
umur 40 tahun keatas perempun masih dapat dihamilkan, fertilitas menurun cepat
sesudah umur tersebut (ilmu kandungan,2008).
Kehamilan
merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis dan
adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya. Sebagian besar kaum
wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui
tetapi sebagian wanita mengganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat
menentukan kehidupan selanjutnya.
Perubahan
fisik dan emosional yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian
pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan,
kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosial kultural dan persoalan
dalam kehamilan itu sendiri dapat merupakan pencetus berbagai reaksi
psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ke tingkat gangguan jiwa
yang berat.
Diagnosa kehamilan sangat
penting dilakukan oleh Bidan atau tenaga kesehatan lainnya, untuk mengetahui
semua hal yang terjadi pada masa kehamilan. Diagnosa kehamilan ini juga sangat
berguna bagi ibu hamil, karena dengan mengetahui diagnosa kehamilannnya, ibu
hamil akan lebih baik lagi dalam menjaga kehamilannya dan dengan diagnosa
kehamilan ini bisa meminimalkan resiko buruk yang terjadi pada kehamilan.
Di samping itu, untuk
menjaga kehamilan agar tetap terjaga banyak faktor – faktor yang mempengaruhi
kehamilan yang harus diperhatikan. Faktor – faktor tersebut meliputi : faktor
fisik, faktor psikologis, faktor lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi. Faktor
– faktor inilah yang nantinya akan sangat menentukan perkembangan kehamilan.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
yang dimaksud pseudocyesis?
2. Apa
saja tanda – tanda dari pseudocyesis ?
3. Faktor
resiko apa saja yang dapat menimbulkan pseudocyesis?
4. Apa
penyebab terjadi pseudocyesis?
5. Terjadi
perubahan apa saja jika mengalami pseudocyesis?
C.
TUJUAN
PENULISAN
Kami
menulis makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas asuhan kebidanan kehamilan
pathologis dari dosen kami tentang PSEUDOCYESIS, selain itu kami menulis
makalah ini juga untuk menambah wawasankami mengenai gangguan kejiwaan dalam
kehamilan yang salah satunya membahas tentang pseudocyesis.
BAB II
DASAR
TEORI
A.
DEFINISI
1.
Kehamilan
palsu (pseudocyesis) adalah suatu keadaan dimana seseorang wanita berada dalam
kondisi yang menunjukkan berbagai tanda dan gejala kehamilan seperti tidak
mendapat menstruasi, adanya mual-muntah, pembesaran perut, peningkatan berat
badan, dan gejala kehamlan lainnya, bahkan kadang kala hasil tes urin dapat
menjadi positif palsu (fals positif), tetapi sesungguhnya tidak benar-benar
hamil (suririna, 2005).
2.
Hamil palsu atau yang disebut
pseudocyesis adalah suatu kondisi dimana seorang perempuan yang tidak hamil
namun merasa atau percaya bahwa dirinya sedang hamil, meskipun tidak ada bukti
fisik kehamilan. Tidak menstruasi, morning sickness, mengidam, sakit di bagian
perut dan pembesaran payudara adalah gejala-gejala yang dikeluhkan penderita
hamil palsu (Womens health).
3.
Kehamilan palsu (pseudocyesis)
adalah suatu keadaan dimana seorang wanita menunjukkan tanda-tanda dan gejala
kehamilan seperti tidak mendapatkan menstruasi, adanya mual-muntah, pembesaran
perut, peningkatan berat badan bahkan kadang kala hasil test urin dapat menjadi
positif palsu (false positif), dan gejala kehamilan lainnya—tetapi sesungguhnya
tidak benar-benar hamil.
4.
Pseudosiesis
adalah kehamilan imaginer atau palsu, gejala kehamilan ini secara psikis lebih
berat gangguannya daripada peristiwa abortus. Biasanya gejala yang timbul
seperti tanda hamil yang pasti yaitu berhentinya menstruasi, membesarnya
perut, payudara jadi besar, pinggul jadi besar, perubahan – perubahan
kelenjar endokrin, dan lain-lain.
Pada kehamilan
pseudosiesis secara psokologis ada sikap yang ambivalen terhadap kehamilannya
yaitu ingin sekali menjadi hamil, sekaligus di barengi ketakutan untuk
merealisir keinginan punya anak, sehingga terjadi proses inhibisi. Keinginan –
keinginan tersebut dibarengi rasa bersalah dan dorongan untuk menghukum diri
sendiri yang kemudian di kompensasikan dalam bentuk agresivitas, secara
simultan, berbarengan muncul kesediaan untuk tidak menyadari bahwa kehamilannya
ilusi belaka. Oleh komponen yang kontradiktif ini biasanya wanita tidak mau ke
dokter untuk memeriksakan dirinya.
5.
Kehamilan palsu atau False pregnancy atau pseudocyesis,
adalah suatu kondisi yang terjadi dimana seorang wanita merasa hamil padahal
secara medis tidak hamil sama sekali. Kasus ini sangat jarang terjadi pada 6
dari 22000 kehamilan, dan sering terjadi pada wanita usia 20 – 40 tahun. Pada
kasus yang lebih jarang lagi, pria juga bias menderita kelainan ini, yang biasa
disebut couvade atau sympathetic pregnancy. Para pria ini
akan mengalami gejala seperti pasangan merekan yang sedang hamil, seperti berat
badan yang meningkat, mual-mual, muntah dan nyeri pada punggung. Kalau di
Indonesia biasa disebut suami yang ikut ngidam pada saat istrinya hamil.
B.
ETIOLOGI
Perempuan
yang mengalami kehamilan palsu atau disebut pseudopregnancy seringkali
mengalami gejala kehamilan yang nyata seperti perempuan hamil pada umumnya.
Meskipun kondisi ini belum sepenuhnya dapat dijelaskan, para ahli percaya
penyebab utamanya adalah masalah emosional dan psikologis.
Perempuan
yang mengalami hamil palsu, rahimnya dalam kondisi kosong dalam arti tidak
terdapat janin, namun penderita mengeluhkan gejala yang biasa dialami oleh
seseorang yang benar-benar hamil.
Faktor yang sangat sering berhubungan dengan terjadinya kehamilan palsu
adalah fakor emosional/psikis yang menyebabkan kelenjar pituiteri terpengaruh
sehingga menyebabkan kegagalan system endokrin dalam mengontrol hormon yang
menimbulkan keadaan seperti hamil.
Peristiwa
pseudocyesis merujuk pada peristiwa pseudologia, yaitu fantasi-fantasi
kebohongan yang selalu ditampilkan kedepan untuk mengingkari atau menghindari
realita yang tidak menyenangkan. Wanita pseudoyesis ingin sekali menonjolkan
egonya untuk menutupi kelemahan dirinya, oleh karena itu dipilihlah aliran
konseling psikoanalisis dengan menekankan pentingnya riwayat hidup klien,
pengaruh dari pengalaman diri pada kepribadian individu, serta
irosionalitas dan sumber-sumber tak sadar dari tingkah laku manusia.
Peran
konselor dalam hal ini adalah menciptakan suasana senyaman mungkin agar klien
merasa bebas untuk mengekspresikan pikiran-pikiran yang sulit. Proses ini bisa
dilakukan dengan meminta klien berbaring di sofa dan konselor di belakang
(sehingga tidak terliahat). Konselor berupaya agar klien mendapat wawasan
dengan menyelami kembali dan kemudian menyelesaikan pengalaman masa lalu yang
belum terselesaikan. Dengan begitu klien diharapkan dapat memperoleh kesadaran
diri, kejujuran dan hubungan pribadi yang lebih efektif, dapat menghadapi
ansietas dengan realistis, serta dapat mengendalikan tingkah laku irasional
(lesmana 2006).
C.
PATOFISIOLOGI
Penyebabnya
diduga gangguan psikologis, dimana seorang wanita mempunyai keinginan yang kuat
untuk hamil, menterjemahkan perubahan-perubahan kecil pada dirinya sebagai
suatu kehamilan. Hebatnya lagi test kehamilan bisa positf (false positif = positif
palsu). Air susu juga bisa keluar. Keduanya terjadi lewat jalur
hypothalamus-hypofise. Perut membesar akibat penumpukan lemak didinding perut.
Gerakan gas dalam perut disangka gerakan bayi. Karena secara fisik kondisinya
normal maka tidak dibutukan obat2an kecuali jika ingin memancing haidnya muncul
kembali.
Factor
– factor psikologis lain yang menyebabkan terjadinya kehamilan palsu ini
seperti : kemiskinan, pendidikan rendah, pengalaman sexual abuse pada saat
masih kanak-kanak, masalah dalam hubungan suami – istri, dll.
Kehamilan palsu ini sangat berbeda dan tidak sama
dengan kejadian lain seperti berpura-pura hamil atas alas an tertentu seperti
ekonomi, atau berangan-angan atau berkhayal hamil seperti pada pasien-pasien schizophrenia
D.
TANDA GEJALA
Wanita
dengan kondisi pseudocyesis memiliki kondisi psikologis seperti berikut ini:
1.
Adanya sikap yang ambivalen
terhadap kehamilannya, yaitu ingin sekali menjadi hamil,sekaligus tidak ingin
menjadi hamil. Ingin memiliki anak yang dibarengi dengan rasa takut untuk
menetralisasi keinginan mempunyai anak.
2.
Keinginan untuk menjadi hamil
terutama tidak sekali timbul dari dorongan keibuan, akan tetapi khusus dipacu
oleh dendam, sikap bermusuhan, dan harga diri. Sebagai contoh wanita yang
steril.
3.
Secara bersamaan muncul kesedian
untuk menyadari, sekaligus kesedian untuk tidak mau menyadari bahwa kehamilannya
adalah ilusi belaka.
4.
Wanita dengan pseudocyesis tidak
telepas dari pseudologi, yaitu fantasi-fantasi kebohongan yang selalu
ditampilkan kedepan untuk mengingkari hal-hal yang tidak menyenangkan.
E.
FAKTOR RESIKO
Perempuan yang beresiko mengalami hamil palsu ini,
diantaranya:
1.
Usia akhir 30 atau awal 40 tahun dan
belum memiliki anak (Infertilitas)
2.
Pernah mengalami keguguran pada
kandungan sebelumnya
3.
Sangat ingin punya anak lagi, karena
anak yang kecil sudah layak punya adik lagi
4.
Di lingkungannya ada perempuan yang
sedang hamil
5.
Faktor stres dan kecemasan, terutama
yang menyangkut kehamilan
6.
Menopouse dini
7.
Hasrat ingin menikah
F.
PENGOBATAN
Pengobatan tergantung sejauh mana
kepercayaan pasien terhadap delusi/khayalannya, perlunya dukungan dari pasangan
hidup dan juga keluarga untuk mengatasinya.
Untuk suatu keadaan yang berat
dimana penderita benar-benar merasa yakin kalau dia hamil dan keadaan ini
sampai menimbulkan depresi maka konseling psikologis atau psikiater mungkin
diperlukan.
BAB III
CONTOH KASUS
Seorang wanita berusia 30 tahun bernama ny.S. Ia sudah lama ingin merasakan
bagaimana rasanya hamil dan menginginkan kehadiran seorang bayi. Ia dan
suaminya telah melakukan segala cara untuk mendapatkan keturunan, mulai dari segi
medis, spiritual, terapi, termasuk melakukan coitus yang teratur sesuai
instruksi dokter namun hasilnya tetap sama. Mereka belum juga mendapatkan
momongan.
Suaminya telah pasrah dengan keadaan ini, namun keinginan suhartin untuk
segera hamil membuatnya mengalami proses inhibisi. Dia merasa bersalah kepada
suaminya karena tidak bisa memberikan keturunan. Ia seolah-olah menghukum
dirinya sendiri yang kemudian ia kompensasikan dalam bentuk agresivitas, secara
simultan hingga ia merasakan gejala yang mirip dengan kehamilan pasti.
Ia tidak datang bulan, payudara menegang, pinggul dan perutnya membesar. Ia sangat bahagia dengan keadaan tersebut
karena ia menganggap dirinya telah hamil. Ketika suaminya mengajaknya untuk
memeriksakan diri kedokter, ia menolak. Ia lebih memilih menggunakan tes HCG
untuk memastikan kehamilannya.
Namun diluar dugaannya, hasilnya negatif. Belum begitu yakin, ia menerima
ajakan suaminya untuk memeriksakan kehamilannya ke Dokter. Dokter melakukan tes
USG terhadapnya, namun tidak ada kantung kehamilan disana. Suhartin semakin
kecewa. Dokter dan suaminya mencoba menenangkan dan memberikan pengertian
kepada suhartin, namun depresi yang dihadapinya lebih parah daripada peristiwa
abortus.
BAB IV
PEMBAHASAN
Setelah kami
melakukan studi kasus terhadap teori pseudocyesis, kami dapat menyimpulkan
bahwa antara kasus dengan dasar teori saling berkaitan, tidak ada
kesenjanganantara kasus dan teori. Orang yang mengalami pseudocyesis ialah
orang yang benar-benar ingin mempunyai keturunan, baik si penderitabelum
mempunyai keturunan dalam jangka waktu yang lama dari pernikahannya atau
yang sudah mempunyai keturunan
sebelumnya. Dimana kondisi sang penderita mengalami tanda-tanda atau
gejala-gejala seperti orang hamil pada umumnya seperti mual, merasakan gerakan
janin, tidak haid, payudara menegang, pinggul dan perutnya membesar. Namun
semua itu bukanlah tanda pasti kehamilan.
Setelah si
penderita melakukan pemeriksaan di petugas kesehatan, penderita akan dinyatakan
tidak hamil, karena setelah di USG tidak ada kantung rahim, pembesaran perut
tidak diikuti dengan pembesaran uterus, tidak ada bunyi detak jantung janin.
Setelah petugas kesehatan mengethui hal yang sebenarnya terjadi pada penderita
hendaknya petugas kesehatan memberitahu dan memberi penjjelasan kepada
penderitadan keluarganya agar penderita dapat menerima kondisinya yang
sebenarnya dan tidak menimbulkan depresi, pihak keluarga juga hendaknyamemberi
semangat/dukungan kepada penderita agar penderita tidak menyesal.
Untuk itu
diharapkan bagi penderita atau keluarga terdekat hendaknya jangan terlalu
menekan pasangannya untuk segera hamil, dan bersabar dengan keadaan.
Konsultasikan kepada petugas kesehatan tentang program anak, dan menjaga
kondisi fisik, pola makan dan pola seksual.
BAB V
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pseudocyesis ( kehamilan
palsu) adalah suatu keadaan dimana
seseorang wanita berada dalam kondisi yang menunjukkan berbagai tanda dan
gejala kehamilan seperti tidak mendapat menstruasi, adanya mual-muntah,
pembesaran perut, peningkatan berat badan, dan gejala kehamlan lainnya, bahkan
kadang kala hasil tes urin dapat menjadi positif palsu (fals positif), tetapi
sesungguhnya tidak benar-benar hamil (suririna, 2005).
Pseudocyesis disebabkan karenagangguan psikologi dimana sang penderita terlalu
menginginkan mempunyai anak.
Perempuan yang beresiko mengalami hamil palsu ini,
diantaranya:
1.
Usia akhir 30 atau awal 40 tahun dan
belum memiliki anak (Infertilitas)
2.
Pernah mengalami keguguran pada
kandungan sebelumnya
3.
Sangat ingin punya anak lagi, karena
anak yang kecil sudah layak punya adik lagi
4.
Di lingkungannya ada perempuan yang
sedang hamil
5.
Faktor stres dan kecemasan, terutama
yang menyangkut kehamilan
6.
Menopouse dini
7.
Hasrat ingin menikah
Anak adalah titipan sang
ilahi, manusia hendaknya berusaha dan berdo’a jika menginginkan kehadiran
seorang anak. Apabila kita telah diberi momongan hendaknya kita menjaganya
dengan baik dan benar. Kita boleh saja menginginkan kehadiran seorang anak
asalkan kita dapat mengontrol keinginan kita dan melakukannya dengan benar.
Jangan terlalu mengharapkan sehingga menganggap semua keinginannya harus
terpenuhi karena dengan hal seperti itu dapat mempengaruhi psikologi kita.
DAFTAR
PUSTAKA
Mansur,
Herawati. 2009. Psikologi Ibu dan Anak untuk Kebidanan. Salemba Medika:
Jakarta.
http://artikelkesehatananak.com/cara-mengatasi-hamil-palsu.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar